korang kena baca posting awal, pastu baru baca yg nie..
kisah yg menjadi pengajaran kepada kita =)
Pada Minggu (26/12) pagi, anggota Makorem Teuku Umar melakukan upacara di halaman markas yang berada di bibir pantai tersebut. Saat kegiatan berlangsung, terasa bumi bergoyang dalam waktu yang cukup lama. Karena situasinya mengkhawatirkan, Kolonel Gerhan Lantara memerintahkan upacara dibubarkan dan anggota dipersilakan menyelamatkan keluarga masing-masing.
"Namun belum juga kami keluar dari markas, tiba-tiba gelombang besar datang. Banyak rekan saya yang tidak sempat menyelamatkan diri. Saya terseret gelombang pertama tsunami, tapi masih bisa berlari," tuturnya.
Saat itulah gelombang tsunami yang kedua datang lagi. Bahtiar terempas dan kakinya tersangkut pada besi beton dalam air. Dia tidak bisa bergerak lagi. Bahtiar benar-benar pasrah, dan kematian sudah begitu dekat. Gelombang amuk air laut yang kedua dan ketiga muncul lagi begitu dahsyat.
"Saya sudah pasrah, badan ini sudah terasa remuk. Tidak ada lagi harapan. Tapi tiba-tiba pada saat-saat kritis saya teringat pada anak istri di Medan. Saya berdoa sebisanya, sambil membaca surat Al-Lahab. Ajaib, kaki saya lolos dari jepitan besi beton," katanya dengan mata berkaca-kaca.
Rasa perih pada kaki tidak dirasakannya, Bahtiar segera mencari tempat lebih tinggi di reruntuhan rumah. Namun tubuhnya hanyut kembali. Akhirnya tersangkut di pepohonan. Dari tempat itulah, dia melihat tiga gelombang tsunami yang dahsyat mengepung Meulaboh secara bergantian.
Dalam kondisi seperti itu Bahtiar mengaku menemui dua kali kejadian aneh, yang menurutnya tidak masuk akal. Kejadian pertama, seorang anak lelaki yang tengah berada antara hidup dan mati di atas sebatang pohon yang hanyut, tiba-tiba tubuhnya terlempar ke sebuah atap rumah. Kejadian serupa menimpa pula seorang ibu yang timbul tenggelam terbawa gelombang. Beberapa saat kemudian dia bertemu dengan kedua orang itu di RS Cut Nyak Dien.
Setelah suasana agak mereda, Bahtiar berenang ke arah asrama Korem dan bergabung dengan warga yang lain. "Ini pengalaman yang paling berat dalam hidup saya. Batas antara hidup dan mati begitu dekat. Allah begitu kuasa atas segala sesuatu," ujarnya lirih
aku ambik semua nie dr sini :
http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/1204/30/0105.htm
Subahanallah!!!!